, ,

Dea Valencia, Pengusaha Muda yang Sukses dari Bisnis Fashion Batik

by -5 views
Pengusaha Muda - Dea Valencia

Menjadi pengusaha muda sukses dari nol mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi hal ini tidak berlaku bagi Dea Valencia. Founder atau pendiri dari brand Batik Kultur ini telah sukses menjadi seorang pengusaha muda dengan usaha yang dilakukannya sendiri dan bukan berasal dari warisan orang tua.

Hal ini pasti juga menjadi mimpi bagi para anak muda yang bercita-cita untuk menjadi entrepreneur muda yang sukses. Lalu seperti apakah cerita Dea Valencia sehingga dapat meraih kesuksesannya seperti saat ini?

Latar Belakang Dea Valencia

Foto: Pexels
Foto: TopCareer.id

Dea Valencia Budiarto adalah seorang anak dari pasangan Ariyani Utoyo dan Iskiworo Budiarto yang lahir di Semarang pada 14 Februari 1994. Selain cantik, gadis yang akrab dengan sapaan Dea ini juga dianugerahi dengan kecerdasan intelektual. Dea Valencia lulus SMA di usia 15 tahun melalui program akselerasi. Setelahnya dia kuliah di Universitas Multimedia Nusantara dan lulus dalam kurun waktu tiga setengah tahun.

Meski usianya masih tergolong sangat muda, kini Dea telah menjadi salah satu pengusaha muda di Indonesia yang sukses dan telah memiliki dua galeri Batik, yaitu di Semarang dan Jakarta. Namun, kesuksesannya ini tidak diraih dengan mudah. Pada usianya yang masih menginjak 16 tahun, Dea memulai usahanya dengan berjualan kain batik. Saat itu dia masih duduk di bangku perkuliahan.

Ia pernah bercerita bahwa semua kisah suksesnya berawal dari ia yang membantu ibunya menjual koleksi Batik Lawas yang mereka miliki. Ia mengaku belajar banyak dari hal tersebut.

Sambil berjualan kain batik, Dea juga belajar banyak hal mengenai Batik dengan membaca buku yang berkaitan dengan Batik, hal ini membuatnya semakin jatuh cinta dengan kain khas dari Nusantara ini hingga akhirnya ia mulai belajar membuat pakaian dari batik.

Awal Berdirinya Batik Kultur

Pengusaha Muda - Dea Valencia
Foto: Hariansib.com

Dalam sebuah sesi wawancara, Dea pernah berkata bahwa kecintaannya pada batik ditularkan oleh orang tuanya. Ia pun ingin memiliki koleksi batik yang beragam, sayang ia memiliki keterbatasan pada dana.

Dengan motivasi tersebut, Dea mengawali mimpinya dengan satu orang penjahit di ujung lorong garasi rumah orang tuanya, dia mengubah kain Batik Lawas menjadi clothing line, yang awalnya hanya dapat memproduksi 20 potong busana per bulan. Seiring berjalannya waktu, kini bisnis batik yang dilakukannya dapat memproduksi 800 potong dengan omzet penjualan mencapai Rp 300 juta setiap bulannya.

Saat ini, Dea telah sukses menjadi pengusaha muda sukses dari nol. Dea benar-benar memulai semuanya dari awal, bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur hingga sekarang.

Namun, di balik kesuksesannya yang cemerlang hingga sekarang. Ada banyak cobaan yang harus ia hadapi. Ia pernah memiliki masalah hak paten. Nama Batik Sinok yang awalnya akan menjadi brand Batiknya ternyata telah didaftarkan oleh orang lain. Sinok merupakan nama panggilan Dea sejak kecil dan sangat berarti baginya, hal ini bahkan sempat membuatnya stress hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengubah mereknya. Dan jadilah Batik Kultur by Dea Valencia sebagai merek dagang yang ia banggakan hingga sekarang.

Rahasia Sukses Pengusaha Muda Dea Valencia

Pengusaha Muda Dea Valencia Batik Kultur
Foto: Swa.co.id

Semua koleksi yang dijual di Batik Kultur merupakan hasil desain dari Dea sendiri. Walaupun mengaku tidak pandai menggambar, tetapi ia memiliki seorang rekan yang dapat diandalkan untuk mentransfer ide-ide kreatifnya tentang pola batik dan busana hingga dapat menjadi sebuah desain.

Dea juga memiliki prinsip yang cukup unik namun patut untuk dicontoh soal urusan desain. “Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka.”

Salah satu rahasia kesuksesan Batik Kultur adalah menggunakan internet sebagai sarana pemasaran. Sebagai seorang Sarjana Sistem Informasi, tentu Dea cukup peka dengan tren dan peluang yang ada saat ini dengan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya.

Hal ini cukup terbukti dengan jangkauan pasar yang luas sehingga produksi Batik Kultur tidak hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri tetapi juga di ekspor hingga ke luar negeri.

Saat ini dalam memproduksi Batik, Dea dibantu oleh sekitar 120 orang pekerjanya. Di mana hampir 50% dari karyawannya adalah penyandang disabilitas. Bagi Dea, semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal bekerja. Hal ini yang mendasarinya untuk menerima penyandang disabilitas untuk bekerja di tempatnya.

Bahkan untuk mengapresiasi karya dari para pekerjanya, Dea ikut serta dalam menggerakkan kampanye Cerita di Balik Jahitan. Yakni, sebuah gerakan untuk menunjukkan bahwa setiap busana yang diproduksi di Batik Kultur memiliki kisahnya tersendiri.

Demikian artikel mengenai kisah pengusaha muda sukses dari nol, Dea Valencia yang dapat dijadikan inspirasi bagi generasi millenial saat ini. Semoga artikel ini dapat memotivasi kamu untuk jadi pengusaha muda yang sukses seperti Dea, ya!